SURABAYA — Sabtu pagi itu, langkah-langkah para calon santri datang bersama ayah dan bunda. Ada wajah yang tampak tenang, ada pula senyum kecil yang menyimpan rasa penasaran. Di balik suasana tersebut, sebuah perjalanan baru sedang dimulai—perjalanan menuju jenjang pendidikan di SMP Luqman Al Hakim Surabaya.

Sejak pukul 08.00 WIB, sebanyak 72 calon santri bersama orang tua mengikuti kegiatan Tes dan Observasi Santri Baru SMP Luqman Al Hakim Surabaya. Kegiatan ini menjadi salah satu tahapan penerimaan santri baru sekaligus ruang awal bagi sekolah untuk mengenal calon santri dan orang tua lebih dekat.

Baca Juga : menjalin-sinergi-menguatkan-kolaborasi

Dimulai dari Satu Ruang, Menuju Perjalanan Baru

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan yang berlangsung di Hall Lantai 3 Gedung SD Luqman Al Hakim Surabaya. Para calon santri dan orang tua terlebih dahulu berkumpul untuk mendapatkan pengarahan sebelum mengikuti rangkaian tes dan observasi.


Image

Image

Dalam kesempatan tersebut, Adi Purwanto, M.Pd. menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh orang tua yang telah memberikan kepercayaan kepada SMP Luqman Al Hakim Surabaya sebagai tempat pendidikan putra-putrinya.

Kepercayaan itu bukan sekadar tentang memilih sebuah sekolah. Di dalamnya tersimpan harapan orang tua tentang ilmu, adab, karakter, serta masa depan anak-anak mereka.

Adi Purwanto, M.Pd. kemudian secara resmi membuka kegiatan Tes dan Observasi Santri Baru. Usai pembukaan, peserta diarahkan menuju unit masing-masing. Calon santri SMP mengikuti rangkaian kegiatan di gedung putra dan gedung putri sesuai dengan pembagian yang telah ditentukan.

Bukan Sekadar Tes

Di ruang-ruang yang telah disiapkan, proses berlangsung lebih dekat dan personal. Calon santri menjalani tahapan tes, sementara orang tua mengikuti proses observasi bersama tim sekolah.


Image

Image

Percakapan demi percakapan berlangsung. Bukan semata untuk mencari jawaban benar atau salah, tetapi menjadi jalan bagi sekolah untuk mengenali calon santri sekaligus memahami harapan keluarga yang akan menjadi bagian dari perjalanan pendidikan mereka.

Sebab pendidikan yang kuat tidak hanya dibangun di dalam ruang kelas. Ia tumbuh ketika sekolah dan orang tua berjalan dalam arah yang sama, saling mengenal, saling memahami, dan bersama-sama mendampingi tumbuh kembang anak.

Kehadiran 72 calon santri beserta orang tua pada hari itu pun menjadi lebih dari sekadar angka. Di setiap kursi yang terisi, ada cita-cita yang sedang dipersiapkan. Di setiap percakapan, ada kepercayaan yang sedang dititipkan.

Dan mungkin, bertahun-tahun dari sekarang, mereka akan mengenang pagi ini bukan sekadar sebagai hari ketika mengikuti sebuah tes.

Melainkan sebagai hari ketika langkah pertama menuju masa depan itu benar-benar dimulai.

Reff : theDies