SURABAYA — Pagi itu, suasana Masjid Aqshal Madinah terasa lebih hening dari biasanya. Di antara cahaya yang masuk perlahan dan barisan jamaah yang menyimak, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an mengalir tanpa terputus.
Tidak ada mushaf yang terbuka di hadapan pembacanya. Tidak ada jari yang menelusuri baris demi baris ayat. Semua dilantunkan dari ingatan yang telah dijaga melalui waktu, kedisiplinan, dan pengulangan yang panjang.
Di tengah keheningan itu duduk seorang santri bernama Jumanu Juhair Al Javir. Saat ini, ia tercatat sebagai siswa kelas VIII SMP Luqman Al Hakim Surabaya Program Takhassus.
Pada Senin, 24 Agustus 2026, Jumanu mengikuti kegiatan Tasmi’ Al-Qur’an, yakni memperdengarkan hafalan Al-Qur’an sebanyak lima juz dalam sekali duduk. Hafalan yang disetorkan meliputi Juz 26 hingga Juz 30.
Kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB dan berlangsung hingga pukul 11.00 WIB di Masjid Aqshal Madinah, Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya.
Ujian itu bukan sekadar membaca ayat demi ayat. Jumanu harus melantunkan seluruh hafalannya menggunakan metode bil ghaib, yakni membaca Al-Qur’an tanpa melihat mushaf sama sekali.
Satu ayat disambung dengan ayat berikutnya. Satu surah berpindah menuju surah selanjutnya. Di setiap jeda, ia harus menjaga ketenangan, mengingat urutan, serta memastikan bacaan tetap berada pada jalurnya.
Setoran hafalan tersebut disimak langsung oleh Syekh Muhammad Mahdi Al-Yamani, seorang syekh yang didatangkan langsung dari Yaman. Kehadirannya memberikan kesan mendalam sekaligus menghadirkan pengalaman berharga bagi Jumanu dalam perjalanan menjaga hafalan Al-Qur’an.
Di hadapan sang syekh, Jumanu tidak hanya diuji tentang seberapa banyak ayat yang mampu diingat. Ia juga belajar tentang ketelitian, kesabaran, keberanian, serta tanggung jawab seorang penghafal terhadap kalam Allah yang tersimpan di dalam dadanya.
Tasmi’ lima juz sekali duduk merupakan proses yang menuntut persiapan panjang. Hafalan tidak cukup hanya diselesaikan, tetapi harus terus diulang dan dikuatkan agar setiap ayat tetap terjaga. Kesalahan kecil dapat menjadi pengingat bahwa perjalanan bersama Al-Qur’an membutuhkan kesungguhan yang tidak pernah berhenti.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pembinaan Al-Qur’an dalam Program Takhassus SMP Luqman Al Hakim Surabaya. Melalui program tersebut, para santri diarahkan untuk tidak sekadar menambah jumlah hafalan, tetapi juga membangun kedekatan, kecintaan, dan kedisiplinan dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.


Di usia yang masih muda, Jumanu telah mengambil satu langkah penting. Lima juz yang dilantunkan dalam sekali duduk bukan hanya pencapaian yang dapat dihitung dengan angka. Di baliknya terdapat hari-hari panjang untuk murajaah, perjuangan menaklukkan rasa lelah, serta kemauan untuk kembali mengulang ketika hafalan belum benar-benar kuat.
Ketika lantunan terakhir selesai dibacakan, masjid kembali dipenuhi keheningan. Namun, keheningan itu tidak lagi sama. Di dalamnya tersimpan rasa syukur, harapan, dan sebuah pesan tentang perjalanan menjaga Al-Qur’an.
Sebab, menjadi penghafal bukan hanya tentang seberapa banyak ayat yang mampu tersimpan dalam ingatan, melainkan seberapa kuat seseorang menjaga ayat-ayat itu tetap hidup dalam hati dan perbuatannya.
Hari itu, Jumanu menuntaskan lima juz tanpa melihat mushaf. Namun sesungguhnya, perjalanan terbesarnya baru saja dimulai: menjaga setiap ayat agar tidak hanya menetap dalam ingatan, tetapi juga menerangi seluruh kehidupannya.

