SURABAYA — Cahaya dari layar proyektor jatuh di dinding ruang kelas lantai satu SMP Luqman Al Hakim Surabaya. Di hadapannya, deretan laptop menyala. Para guru duduk menghadap layar, menyimak, mencoba, lalu sesekali mendiskusikan hal-hal baru yang muncul di hadapan mereka.

Pagi itu, ruang kelas tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pembelajaran. Ia berubah menjadi ruang perjumpaan antara pengalaman para pendidik dan teknologi yang terus berkembang.

Para guru SMP Luqman Al Hakim Surabaya mengikuti kegiatan belajar untuk mengenal dan mendalami pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam proses pembelajaran dan penyampaian materi ajar.


Image

Image

Kegiatan tersebut dipandu oleh Aviv Iqbal Maulidan, perwakilan PT Refo Indonesia. Di depan para peserta, Aviv memperkenalkan cara pandang baru terhadap teknologi: bukan sekadar perangkat pendukung, melainkan mitra yang dapat membantu guru merancang pembelajaran dengan lebih efektif, kreatif, dan relevan.

Dalam pemaparannya, Aviv menyampaikan pentingnya memanfaatkan Google sebagai partner dalam kegiatan belajar dan mengajar. Berbagai teknologi digital, termasuk AI, dapat membantu guru mengembangkan ide, menyiapkan materi, menyederhanakan pekerjaan, serta menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi peserta didik.

Namun, sesi tersebut tidak berhenti pada penjelasan teori.

Para guru membuka laptop masing-masing, mengikuti arahan, dan mencoba memahami bagaimana AI dapat diterapkan dalam kebutuhan pembelajaran sehari-hari. Dari menyusun gagasan hingga mengembangkan penyampaian materi, setiap langkah menjadi kesempatan untuk mengenal teknologi secara lebih dekat.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul. Jemari bergerak di atas papan ketik. Mata sesekali berpindah dari layar laptop menuju paparan narasumber. Suasana belajar tumbuh dari rasa ingin tahu—bahwa di tengah cepatnya perubahan zaman, seorang pendidik tidak boleh berhenti memperbarui dirinya.

Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar SMP Luqman Al Hakim Surabaya dalam meningkatkan kompetensi digital para guru. Sebab, peserta didik hari ini tumbuh bersama teknologi. Mereka membutuhkan pendidik yang tidak hanya memahami ilmu dan karakter, tetapi juga mampu menghadirkan pembelajaran dengan bahasa zaman mereka.

Meski demikian, AI bukanlah pengganti seorang guru. Teknologi dapat membantu mencari gagasan, mengolah informasi, dan menyusun materi. Namun, keteladanan, kasih sayang, kebijaksanaan, serta sentuhan manusia dalam pendidikan tetap lahir dari sosok guru.

Di ruang kelas lantai satu itu, para guru tidak sedang belajar untuk menyerahkan pendidikan kepada mesin. Mereka sedang belajar menguasai teknologi agar dapat mendampingi murid-muridnya melangkah lebih jauh.

Sebab, masa depan pendidikan bukan tentang siapa yang paling cepat menggunakan teknologi, tetapi tentang siapa yang paling bijak mengarahkannya untuk menumbuhkan manusia.

Reff : Humas SMP Luqman Alhakim