Pagi masih terasa teduh di Masjid Aqshal Madinah. Di atas lantai masjid, anak-anak Takhassus SMP Luqman Al-Hakim Surabaya duduk membentuk lingkaran. Tidak ada meja kelas, tidak ada papan tulis. Hanya para siswa, guru, dan suasana masjid yang menjadi ruang belajar pagi itu.
Di tengah lingkaran, Ust. Ilham Akbar Ryant Prabowo menyampaikan pengarahan sekaligus motivasi. Kali ini, pembahasan berangkat dari pesan penting dalam QS. Al-Qashash ayat 77:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
> “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Ayat tersebut mengajarkan bahwa seorang Muslim tidak diperintahkan untuk meninggalkan dunia demi akhirat. Sebaliknya, Islam mengajarkan keseimbangan: akhirat menjadi tujuan utama, sementara dunia menjadi sarana untuk mencapainya.

Ust. Ilham mengajak para siswa untuk memahami bahwa banyak amal akhirat yang membutuhkan kekuatan dunia. Untuk membangun masjid dibutuhkan kemampuan ekonomi.
Untuk mendidik umat dibutuhkan ilmu. Untuk mengembangkan lembaga pendidikan dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas. Untuk membantu kaum dhuafa dibutuhkan kemampuan finansial. Bahkan untuk menjaga kehormatan dan kemandirian umat, diperlukan generasi yang memiliki ilmu, keterampilan, teknologi, dan kekuatan ekonomi.
Karena itu, belajar dengan sungguh-sungguh juga dapat menjadi bagian dari perjuangan seorang Muslim.
Persoalannya, hari ini umat Islam masih menghadapi banyak ketertinggalan. Dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, hingga penguasaan berbagai keahlian, umat Islam masih harus berjuang mengejar ketertinggalan tersebut.
Padahal, jika kita melihat wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah ﷺ, pesan yang pertama kali datang adalah perintah untuk membaca: *Iqra’.
Ini menjadi renungan besar bagi generasi muda Islam.
Islam datang dengan perintah untuk belajar, tetapi mengapa sebagian umat Islam justru mengalami ketertinggalan dalam ilmu dan pendidikan?
Maka, belajar tidak boleh dipandang hanya sebagai kewajiban sekolah atau sekadar untuk mendapatkan nilai yang baik. Belajar harus menjadi bagian dari kesadaran seorang Muslim untuk membangun kembali kekuatan umat.
Seorang siswa Takhassus tidak cukup hanya menjadi anak yang dekat dengan Al-Qur’an. Ia juga harus menjadi anak yang berilmu, berpikir luas, memiliki keterampilan, disiplin, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menghafal Al-Qur’an adalah kemuliaan. Tetapi hafalan tersebut harus melahirkan pribadi yang mau belajar dan berkontribusi. Al-Qur’an harus membentuk manusia yang tidak hanya baik secara spiritual, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menghadapi kehidupan.
Karena itu, tidak ada pertentangan antara menjadi penghafal Al-Qur’an dan menjadi orang yang berprestasi dalam ilmu dunia. Tidak ada pertentangan antara rajin beribadah dengan belajar matematika, sains, bahasa, teknologi, ekonomi, atau berbagai bidang ilmu lainnya.
Justru ilmu-ilmu tersebut dapat menjadi sarana untuk memperkuat kehidupan umat.
Ust. Ilham kemudian mengingatkan para siswa bahwa cita-cita mereka tidak boleh berhenti pada keinginan untuk menjadi “orang pintar” bagi dirinya sendiri. Ilmu yang diperoleh harus memiliki orientasi manfaat.
Belajar agar mampu. Mampu agar bermanfaat. Dan bermanfaat sebagai bagian dari ibadah kepada Allah.
Inilah salah satu pesan penting dari QS. Al-Qashash ayat 77: akhirat jangan dilupakan, tetapi bagian kita di dunia juga jangan ditinggalkan.
Maka, menjadi Muslim yang baik bukan berarti meninggalkan dunia. Yang harus ditinggalkan adalah menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.
Dunia digunakan sebagai jalan menuju akhirat.

Pendidikan digunakan untuk membangun peradaban. Kekayaan digunakan untuk membantu sesama. Teknologi digunakan untuk kemaslahatan. Jabatan digunakan untuk melayani. Ilmu digunakan untuk membimbing. Dan kekuatan digunakan untuk menegakkan kebaikan.
Pagi itu, Masjid Aqshal Madinah bukan sekadar menjadi tempat anak-anak belajar agama. Ia menjadi ruang untuk menanamkan sebuah kesadaran:
Jika umat Islam ingin kembali kuat, maka generasinya harus kembali kuat dalam belajar.
Kuat hafalannya, kuat ibadahnya, kuat akhlaknya, dan kuat pula ilmunya.
Sebab umat yang hanya memiliki semangat tanpa ilmu akan mudah tertinggal. Dan ilmu tanpa iman dapat kehilangan arah.
Karena itu, generasi Qur’ani harus mampu menggabungkan keduanya: dekat dengan Allah dan bersungguh-sungguh menguasai dunia sebagai sarana untuk berbuat baik.
Hari ini mungkin kita masih tertinggal. Tetapi ketertinggalan bukan alasan untuk menyerah.
Ia adalah panggilan untuk belajar lebih keras, berusaha lebih sungguh-sungguh, dan mempersiapkan generasi yang kelak mampu membawa umat Islam kembali menjadi umat yang berilmu, mandiri, kuat, dan bermanfaat.
Reff : Humas SMP Luqman Al Hakim
