SURABAYA — Suara langkah, hentakan kaki, dan teriakan semangat bersahutan di gelanggang. Di balik seragam merah yang dikenakan, ada latihan panjang, keberanian, dan tekad yang dibawa para santri menuju satu tujuan: memberikan kemampuan terbaik.
Empat hari perjuangan itu akhirnya berbuah manis.
Santri SMP Luqman Al Hakim Surabaya berhasil membawa pulang tujuh medali dalam ajang 16th Airlangga Championship Tapak Suci National Open, yang berlangsung pada 10–13 September 2026. Dua medali emas, tiga medali perak, dan dua medali perunggu menjadi catatan membanggakan dari perjuangan mereka di gelanggang.
Baca Juga : Tiga Podium Berhasil Dibawa Pulang
Dua Emas dari Gelanggang
Kilau emas dipersembahkan Muhammad Ghaisan Hammani melalui nomor Seni Tunggal Tangan Kosong & Bersenjata. Ketepatan gerak, kekuatan, serta penguasaan teknik mengantarkannya meraih posisi terbaik.
Emas berikutnya datang dari arena tanding. Arganta Dimas Pratama berhasil menjadi yang terbaik pada Tanding Kelas F Putra. Sebuah kemenangan yang lahir bukan hanya dari kekuatan fisik, tetapi juga keberanian mengambil keputusan dalam setiap detik pertandingan.


Perjuangan berlanjut dengan raihan tiga medali perak. Agha Adli Putrathandie meraih perak pada Seni Tunggal Jurus Harimau, Adzkar Izzat Al Ahnaf pada Seni Tunggal Bunga Rampai Matahari 1, dan Mardika Arsetya Pratama melalui Tanding Kelas Bebas Putra.
Sementara itu, dua medali perunggu turut melengkapi capaian kontingen. Devano Radya Putra Affandi dan Abiyyu Amsyar Asyiqullah masing-masing berhasil meraih medali perunggu pada nomor Seni Tunggal Bunga Rampai Matahari 1.
Lebih dari Sekadar Medali
Ketika pertandingan selesai, yang dibawa pulang para santri bukan hanya sertifikat dan medali yang menggantung di dada.
Ada keberanian yang tumbuh ketika harus berdiri sendiri di gelanggang. Ada kedisiplinan yang ditempa melalui latihan berulang. Ada kemampuan mengendalikan diri ketika menghadapi tekanan. Dan yang tidak kalah penting, ada pelajaran untuk menerima kemenangan maupun hasil pertandingan dengan sikap terhormat.



Di sinilah pencak silat menemukan maknanya dalam pendidikan. Menjadi kuat tidak cukup hanya dengan fisik. Kekuatan harus berjalan bersama disiplin, karakter, dan akhlak.
Prestasi tujuh santri tersebut sekaligus menjadi bagian dari ikhtiar SMP Luqman Al Hakim Surabaya dalam memberikan ruang kepada setiap santri untuk berkembang, menemukan potensinya, serta berani berprestasi di bidang yang mereka tekuni.
Hari itu, gelanggang akhirnya kembali sepi. Sorak pertandingan berhenti, langkah para pesilat meninggalkan arena, dan medali telah menemukan pemiliknya.


Namun perjalanan mereka belum selesai.
Sebab menjadi juara bukan hanya tentang berdiri tertinggi di atas podium. Juara yang sesungguhnya adalah mereka yang tetap rendah hati ketika menang, kembali berlatih setelah bertanding, dan menjadikan setiap kemenangan sebagai jalan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.
Juara di gelanggang, teladan dalam kehidupan.

