SURABAYA — Di atas sebuah meja, beberapa gelas plastik, air mineral, gula merah, dan kulit buah pisang tersusun sederhana. Tidak ada peralatan laboratorium yang rumit. Namun pagi itu, dari bahan-bahan yang kerap dianggap biasa, sebuah proses belajar justru sedang dimulai.
Sejumlah guru SMP Luqman Al Hakim Surabaya berdiri mengelilingi meja. Mata mereka tertuju pada bahan dan takaran yang sedang dipersiapkan. Sesekali tangan bergerak mencampur, sementara percakapan dan diskusi kecil mengalir di antara mereka.
Hari itu, para guru tidak sedang berdiri di depan kelas untuk mengajar. Mereka sedang menjadi pembelajar.
Kegiatan tersebut merupakan praktik pembuatan sirup tanaman atau kompos cair, sebuah upaya sederhana untuk mengenalkan pemanfaatan bahan organik menjadi sesuatu yang kembali bermanfaat bagi tanaman dan lingkungan.
Kulit buah pisang yang biasanya berakhir sebagai sampah organik dimanfaatkan sebagai salah satu bahan utama. Dalam praktik tersebut, bahan dicampurkan dengan molase atau gula merah dan air dengan komposisi 1 : 3 : 10, kemudian difermentasi selama kurang lebih tiga pekan.
Prosesnya mungkin terlihat sederhana. Namun justru dari kesederhanaan itulah banyak pelajaran bermula.
Baca Juga : Awal Menjemput Perjalanan Pendidikan
Ketika Guru Kembali Menjadi Murid
Suasana praktik berlangsung cair. Para guru mengamati proses, mencoba, bertanya, berdiskusi, bahkan sesekali diselingi senyum dan tawa.
Ada sesuatu yang menarik dari pemandangan itu. Mereka yang setiap hari mengajak siswa untuk berani mencoba, pada kesempatan ini melakukan hal yang sama: belajar melalui pengalaman.
Sebab pendidikan tidak selalu dimulai dari halaman buku. Alam, lingkungan sekitar, bahkan sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah dapat menjadi ruang belajar apabila dipandang dengan ilmu dan kepedulian.
Praktik pembuatan kompos cair ini sekaligus memperlihatkan bagaimana konsep pembelajaran kontekstual dapat hadir dari persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sampah organik bukan hanya dibicarakan sebagai masalah. Ia dipelajari, diolah, kemudian dicari kemungkinan manfaatnya.
Dari sanalah ilmu menemukan bentuk nyatanya.


Belajar dari Alam, untuk Kehidupan yang Lebih Baik
Kegiatan ini membawa pesan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup berhenti pada slogan.
Ia perlu tumbuh menjadi kebiasaan.
Dimulai dari kemampuan melihat sesuatu yang dianggap tidak berguna, kemudian mengolahnya dengan pengetahuan hingga memiliki manfaat baru. Di dalam proses itu terdapat kepedulian lingkungan, pembelajaran kontekstual, kolaborasi, sekaligus keberanian untuk melahirkan inovasi sederhana.
Bagi sekolah, pengalaman semacam ini juga menjadi bagian dari budaya belajar yang penting. Guru yang terus belajar akan membawa semangat belajar itu kembali ke ruang kelas.
Kelak, yang dibawa kepada siswa bukan hanya pengetahuan tentang bagaimana bahan organik dapat dimanfaatkan. Lebih jauh dari itu, ada cara berpikir yang ingin ditumbuhkan: bahwa persoalan di sekitar kita tidak selalu untuk dikeluhkan, tetapi bisa menjadi kesempatan untuk belajar dan menemukan solusi.
Karena Pendidikan Juga Tentang Menjaga Kehidupan
Pada akhirnya, gelas-gelas berisi campuran itu akan dibiarkan melalui proses fermentasi selama beberapa pekan.
Baca Juga : Balik Pintu Itu ada Masa Depan Pendidikan
Hari akan berganti. Proses alami akan bekerja perlahan. Namun barangkali, yang sedang bertumbuh hari itu bukan hanya bahan yang difermentasi.
Ada kesadaran tentang lingkungan yang sedang dipupuk. Ada semangat belajar yang kembali disegarkan. Dan ada pesan sederhana yang ingin terus dibawa ke dalam pendidikan: ilmu terbaik adalah ilmu yang membuat manusia semakin mampu memberi manfaat bagi kehidupan. Sebab dari sepotong kulit pisang yang nyaris dibuang, para pendidik kembali diingatkan satu hal— di tangan orang yang mau belajar, sesuatu yang dianggap sisa pun dapat menjadi awal dari sebuah manfaat.
Ref : theDies
