SURABAYA — Ada perjuangan yang tidak selalu terdengar riuh. Tidak ada sorak penonton, tidak pula tepuk tangan yang mengiringi setiap langkahnya. Hanya ada ayat demi ayat yang terus diulang, suara lirih yang memenuhi ruang-ruang belajar, dan kesungguhan seorang santri menjaga kalam Allah di dalam ingatannya.
Suasana itulah yang mengiringi tiga santri SMP Luqman Al Hakim Surabaya menjelang Ujian Tasmi’ Al-Qur’an yang insya Allah dilaksanakan Selasa, 15 September 2026.
Mereka adalah Hanif Zaidan Sucahyo, kelas 8D, Juz 29; Abiyyu Amsyar Asyiqullah, kelas 9C, Juz 28; serta Fairel Athariz Rafandra, kelas 8D, Juz 30.
Di balik nama-nama tersebut tersimpan sebuah perjalanan. Perjalanan menghafal yang tidak selesai hanya dengan mampu melafalkan ayat, tetapi juga membutuhkan kesabaran untuk mengulang, ketelitian menjaga bacaan, dan keteguhan untuk mempertahankan hafalan.
Baca Juga : Ketika Kebersamaan Menjadi Kekuatan
Ketika Hafalan Diuji
Tasmi’ menjadi salah satu tahapan penting dalam perjalanan seorang penghafal Al-Qur’an. Para santri akan memperdengarkan hafalan yang selama ini mereka jaga dan murajaah.
Di sinilah ketenangan, kekuatan hafalan, kelancaran bacaan, dan kesiapan mental bertemu dalam satu kesempatan.
Bagi seorang santri, berdiri untuk memperdengarkan hafalan bukan perkara sederhana. Ada rasa gugup yang harus ditenangkan. Ada ayat-ayat yang harus tetap tersambung ketika ingatan diuji. Ada pula kesalahan-kesalahan kecil yang selama proses pembinaan terus diperbaiki.
Namun justru di sanalah pendidikan menemukan maknanya. Tasmi’ bukan sekadar menguji seberapa banyak ayat yang telah dihafalkan, tetapi mengajarkan bagaimana seseorang bertanggung jawab terhadap ayat yang telah dititipkan dalam ingatannya.
Menjaga Al-Qur’an, Menjaga Perjalanan Hidup
Bagi SMP Luqman Al Hakim Surabaya, proses bersama Al-Qur’an tidak semata diarahkan pada capaian jumlah juz. Lebih jauh, kedekatan dengan Al-Qur’an diharapkan tumbuh menjadi bagian dari karakter dan perjalanan hidup para santri.
Sebab menghafal adalah permulaan. Setelahnya ada tugas yang jauh lebih panjang: menjaga, mengamalkan, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam menjalani kehidupan.
Karena itu, menjelang ujian, doa-doa terbaik turut mengiringi Hanif, Abiyyu, dan Fairel.
Baca Juga : Di Balik Pintu Itu, Masa Depan Pendidikan Dibicarakan
Semoga Allah menenangkan hati mereka, menguatkan hafalan, melancarkan setiap ayat yang terucap, serta menjadikan setiap huruf yang mereka jaga sebagai keberkahan bagi diri, orang tua, guru, dan umat.
Hari itu nanti, mungkin yang terdengar hanyalah suara seorang santri melantunkan ayat demi ayat.
Namun di balik setiap lantunan itu, ada waktu yang dikorbankan, ada guru yang sabar membimbing, ada orang tua yang tak berhenti mendoakan, dan ada seorang anak yang sedang belajar mencintai Kalam Rabb-nya.
Sebab menjadi penghafal Al-Qur’an bukan hanya tentang berapa juz yang mampu diselesaikan—tetapi tentang seberapa setia hati menjaga ayat-Nya sepanjang kehidupan.

