SURABAYA — Pagi itu berjalan dengan tenang. Di sebuah ruang yang sederhana, para aktivis SMP Luqman Al Hakim Surabaya duduk bersila, membentuk barisan-barisan kecil. Tidak ada meja rapat, tidak pula deretan kursi formal. Hanya sebuah majelis, seorang guru dengan mikrofon di tangan, dan hati-hati yang sedang diajak kembali mengingat arti sebuah kebersamaan.

Di hadapan mereka, Ustadz Herman, sapaan akrab beliau, mulai menyampaikan kajian pagi.

Suasana yang semula hening perlahan menjadi hangat. Sesekali nasihat beliau diselingi kelakar khas yang mengundang canda dan tawa para peserta. Namun di balik suasana cair itu, tersimpan pesan yang dalam.

Tentang iman. Tentang saudara. Dan tentang bagaimana seharusnya seseorang memperlakukan orang lain sebagaimana ia ingin diperlakukan.

Ustadz Herman kemudian mengingatkan sebuah hadis Rasulullah ﷺ:

“Tidak (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.”
(HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)


Image

Image

Iman yang Hadir dalam Kebersamaan

Pesan itu terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sebab dalam sebuah lembaga pendidikan, keberhasilan tidak pernah benar-benar lahir dari satu orang. Di balik siswa yang bertumbuh, kegiatan yang berjalan, program yang terlaksana, dan sekolah yang terus bergerak, ada banyak tangan yang bekerja bersama.

Ada guru yang mendidik. Ada tenaga kependidikan yang melayani. Ada pimpinan yang mengarahkan. Ada pula banyak peran lain yang mungkin tidak selalu terlihat, tetapi kehadirannya menentukan.

Karena itu, mencintai kebaikan bagi saudara bukan sekadar ungkapan. Ia hadir ketika seseorang bersedia membantu, menguatkan ketika yang lain melemah, menghargai perbedaan peran, dan tidak menjadikan keberhasilan sebagai milik pribadi.

Di situlah ukhuwah menemukan bentuknya.

Bukan hanya dalam kata “kita”, tetapi dalam kesediaan untuk benar-benar berjalan bersama.

Baca Juga : kulit pisang menjadi bahan eksperimen

Sebuah Kancing dan Pelajaran tentang Kekuatan

Menjelang akhir pengajian, Ustadz Herman menyampaikan sebuah perumpamaan sederhana.

Tentang jari-jari tangan.

“Sehebat-hebatnya jari jempol, tidak akan bisa memasukkan kancing baju kalau tidak dibantu dengan jari yang lain.”

Sederhana. Bahkan mungkin terdengar seperti kelakar.

Namun justru di sanalah pesan pagi itu menemukan puncaknya.

Jempol boleh menjadi jari yang kuat. Telunjuk boleh menjadi penunjuk arah. Jari tengah, jari manis, dan kelingking memiliki bentuk serta fungsi yang berbeda. Tidak ada yang benar-benar sama.

Tetapi ketika semuanya bergerak bersama, pekerjaan yang sulit menjadi mungkin dilakukan.

Begitu pula sebuah sekolah.

Kehebatan seseorang tidak akan pernah cukup untuk menggerakkan sebuah lembaga sendirian. Dibutuhkan tangan-tangan yang saling melengkapi, pikiran yang saling menguatkan, dan hati yang tidak lelah menjaga persaudaraan.

Karena Kita Tidak Diciptakan untuk Berjalan Sendiri

Pagi semakin beranjak. Kajian pun sampai pada penghujungnya.

Para aktivis SMP Luqman Al Hakim Surabaya mungkin kemudian kembali kepada tugas masing-masing. Ada yang kembali ke ruang kelas, ruang kerja, pelayanan, ataupun tanggung jawab lainnya.

Namun ada satu pesan yang layak dibawa bersama dari majelis pagi itu:

kekuatan sebuah lembaga bukan terletak pada siapa yang paling hebat di dalamnya, melainkan pada seberapa kuat orang-orang di dalamnya bersedia berjalan bersama.

Sebab pada akhirnya, seperti jari-jari pada satu tangan, kita boleh memiliki kemampuan, karakter, dan peran yang berbeda.

Namun ketika semuanya menggenggam dalam tujuan yang sama, perbedaan itu bukan lagi jarak—ia berubah menjadi kekuatan.

Reff :Humas SMP Luqman Al Hakim