Perginya Sang Pengasuh Yang Pengasih

Super Admin
2026-05-16
148 Tayangan
Perginya Sang Pengasuh Yang Pengasih

Wajahnya hampir selalu dihiasi senyum. Teduh, tenang, dan penuh kasih. Bagi kami yang pernah menjadi muridnya, Ustadz Endang Abdurrahman bukan sekadar pengasuh pesantren. Beliau adalah sosok ayah, guru, sekaligus pelindung yang membimbing dengan hati.

Saya mengenalnya ketika masih menjadi santri. Saat itu beliau menjadi pengasuh di Pesantren Hidayatullah Surabaya. Di tengah kerasnya disiplin kehidupan pesantren, beliau hadir dengan pendekatan yang berbeda. Ada kelembutan yang jarang dimiliki semua pengasuh. Beliau memahami bahwa mendidik bukan hanya soal menghukum, tetapi tentang menemani proses bertumbuh.

Salah satu kalimat beliau yang hingga hari ini terus terngiang adalah: “Jangan melihat muridmu pada hari ini. Lihatlah suatu saat nanti dia akan sukses.”

Kalimat sederhana itu menjadi cara beliau memandang manusia. Beliau tidak mudah menghakimi seorang murid dari kesalahannya hari ini. Ketika ada santri yang melanggar aturan, selama masih dalam batas kenakalan yang wajar, beliau selalu memberi ruang untuk berubah. Memberi waktu untuk bertaubat. Memberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Beliau tidak hanya menasihati, tetapi juga mendampingi.

Bahkan dalam banyak keadaan, beliau menjadi orang yang siap “pasang badan” di hadapan atasan ketika ada murid yang terancam mendapat hukuman berlebihan. Bukan karena beliau membela kesalahan, tetapi karena beliau percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan kedua. Itulah yang membuat beliau dicintai banyak murid.

Banyak pelajaran hidup yang saya ambil dari beliau. Bukan hanya tentang bagaimana menjadi pengasuh, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang penuh kasih. Sampai hari ini, beberapa gaya beliau dalam mengisi kajian masih sering saya tiru. Cara beliau berbicara hangat, dekat dengan jamaah, dan mampu menyentuh persoalan keluarga dengan bahasa sederhana membuat beliau sangat disenangi di banyak majelis taklim.

Parenting menjadi bidang yang paling melekat pada diri beliau. Beliau tidak sekadar berbicara tentang keluarga, tetapi benar-benar hidup di dalamnya. Banyak majelis parenting yang beliau bina dengan penuh kesabaran. Jamaah merasa dekat, merasa didengarkan, dan merasa dipahami.

Pengabdian beliau di Hidayatullah Surabaya berlangsung panjang. Setelah bertahun-tahun menjadi pengasuh di Pesantren Hidayatullah Surabaya, beliau mendapat amanah di Pusdiklat Hidayatullah Batu. Dari sana beliau kemudian ditugaskan ke Jawa Barat, tanah kelahirannya. Hingga akhirnya beliau dipercaya menjadi pengurus DPP di Departemen Pendidikan Keluarga, bidang yang memang menjadi spesialisasi dan kecintaan beliau.

Namun dalam perjuangan itu, Allah memberi ujian. Stroke ringan mulai menguji fisik beliau. Beliau menjalani perawatan cukup lama. Tetapi seperti biasa, beliau tetap bertahan. Tetap istiqamah dalam dakwah. Tetap membersamai umat, terutama dalam dunia parenting yang begitu beliau cintai. Beliau tidak memilih berhenti.

Hingga kabar itu datang. Beliau dikabarkan pingsan ketika sedang memberikan tausiyah dalam sebuah acara kader di Jawa Barat. Saat itu beliau tengah menjalankan amanah sebagai anggota Dewan Murobbi Wilayah. Dan sore ini, berita duka itu benar-benar terdengar.

Sang pengasuh yang pengasih itu telah pergi. Ada banyak orang pandai berbicara. Ada banyak orang mampu mengajar. Tetapi tidak banyak yang mampu mengasuh dengan cinta seperti beliau.

Hari ini kami kehilangan seorang guru. Seorang pembimbing. Seorang pengasuh yang mengajarkan bahwa mendidik harus dilakukan dengan kesabaran, harapan, dan kasih sayang.

Guru kami, Ustadz Endang Abdurrahman…

Izinkan kami melanjutkan jejak pengasihmu dalam mengasuh. Melanjutkan ketelatenanmu dalam membimbing keluarga-keluarga umat. Dan semoga segala senyum, kesabaran, serta cinta yang engkau tanam kepada murid-muridmu menjadi amal jariyah yang terus mengalir di sisi Allah SWT.

Selamat jalan, guru kami.

Semoga Allah melapangkan kuburmu, menerima seluruh amal baktimu, dan mengumpulkanmu bersama orang-orang saleh yang engkau cintai. Aamiin.

Reff : Muh. Idris (Dosen STAI Luqman Al Hakim Surabaya)

Bagikan Berita: