Tak… tak… tak…
Suara bola kecil berwarna orange memantul cepat di atas meja. Sesekali terdengar gesekan sepatu, disusul sorak kecil dari siswa yang menunggu giliran. Di salah satu sudut SMP Luqman Al Hakim Surabaya, sore itu bukan sekadar waktu untuk bermain. Ada konsentrasi yang sedang dilatih, keberanian yang sedang tumbuh, dan potensi yang perlahan menemukan jalannya.
Di balik meja, seorang siswa bersiap menerima servis. Matanya mengikuti arah bola. Bet di tangannya bergerak cepat. Satu pukulan dikembalikan, lalu pukulan berikutnya.
Di hadapannya berdiri Hutri Jaya Latjompo, sosok yang memandu kegiatan ekstrakurikuler tenis meja. Pengalamannya sebagai mantan atlet tenis meja di masa muda membuat latihan tidak berhenti pada bagaimana memukul dan mengembalikan bola. Ia juga mengenalkan kepada para siswa tentang ritme permainan, ketepatan, konsentrasi, hingga mental ketika menghadapi lawan.
Bukan Sekadar Mengisi Waktu
Ekstrakurikuler tenis meja menjadi salah satu ruang bagi siswa SMP Luqman Al Hakim Surabaya untuk mengenali sekaligus mengembangkan bakat dan potensinya di bidang olahraga.
Dalam latihan, siswa diperkenalkan dengan berbagai teknik dasar. Mulai dari cara memegang bet, posisi tubuh, servis, forehand, backhand, hingga bagaimana mengontrol arah dan kecepatan bola.
Namun proses itu tidak selalu berjalan mulus.
Ada bola yang tersangkut di net. Ada pukulan yang terlalu keras hingga keluar meja. Ada pula siswa yang harus mencoba berkali-kali sebelum mampu mengembalikan bola dengan tepat.
Justru dari pengulangan itulah latihan mendapatkan maknanya.
Siswa belajar bahwa kemampuan tidak lahir dalam satu kali mencoba. Dibutuhkan kesabaran untuk mengulang, keberanian menerima kesalahan, dan kemauan memperbaiki diri pada kesempatan berikutnya.


Menemukan Potensi dari Hal yang Disukai
Bagi SMP Luqman Al Hakim Surabaya, pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Setiap anak memiliki potensi yang berbeda dan membutuhkan ruang untuk menemukannya.
Ada siswa yang menonjol dalam akademik. Ada yang tumbuh bersama Al-Qur'an. Ada yang tertarik pada teknologi. Dan ada pula yang menemukan kepercayaan dirinya melalui olahraga.
Tenis meja menjadi salah satu jalan itu.
Melalui latihan yang dilakukan secara bertahap, siswa tidak hanya diarahkan agar semakin terampil bermain. Mereka juga dibiasakan dengan nilai-nilai yang dekat dengan kehidupan: disiplin, fokus, sportivitas, ketekunan, serta kemampuan mengendalikan diri dalam tekanan.
Sebab dalam sebuah pertandingan, pemain tidak selalu berada dalam posisi unggul. Kadang ia tertinggal. Kadang melakukan kesalahan. Namun pertandingan belum selesai selama ia masih bersedia mengambil bet dan kembali menghadapi bola berikutnya.
Sekolah sebagai Tempat Potensi Mendapatkan Kesempatan
Kehadiran pembimbing yang memiliki pengalaman di bidangnya menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Dengan arahan Hutri Jaya Latjompo, para siswa mendapatkan kesempatan belajar dari pengalaman nyata sekaligus mengenal olahraga tenis meja dengan lebih serius.
Bukan tidak mungkin, dari latihan sederhana yang berlangsung hari ini, kelak muncul siswa yang mampu membawa prestasi bagi dirinya maupun sekolah.
Namun sebelum berbicara tentang medali dan podium, ada sesuatu yang lebih dahulu ingin ditumbuhkan: kecintaan terhadap proses.
Sore semakin berjalan. Bola kembali dilambungkan. Seorang siswa mengambil posisi, menunggu servis datang dari seberang meja.
Tak… tak… tak…
Bola itu kembali bergerak.
Dan mungkin, di antara setiap pantulan kecilnya, sedang tumbuh sebuah mimpi besar yang hari ini belum diketahui siapa pun.
Reff; Humas SMP Luqman Al hakim

