TRAWAS — Suara aba-aba terdengar lantang di antara tegaknya pepohonan Alas Soeko, Trawas. Barisan demi barisan berdiri rapi. Seragam kepanduan melekat lengkap, pandangan diarahkan ke depan, sementara setiap peserta berusaha menangkap instruksi yang diberikan.

Namun, di balik wajah-wajah serius itu, tersimpan cerita yang membuat suasana hari pertama Jambore Sako 2026 terasa begitu hidup.

Salah satu kegiatan yang mewarnai hari pertama adalah lomba Peraturan Baris-Berbaris (PBB). Seluruh kelompok fi’ah mendapat kesempatan menunjukkan kekompakan, kedisiplinan, konsentrasi, serta kemampuan mereka dalam menjalankan setiap aba-aba.

Dari Grogi hingga Salah Aba-Aba

Begitu giliran masing-masing fi’ah tiba, suasana berubah. Latihan yang sebelumnya terasa biasa mendadak menjadi berbeda ketika harus tampil di hadapan peserta lain.

Baca Juga : Menjemput Kemandirian dan Tanggung Jawab

Ada yang berdiri begitu serius, tetapi raut wajahnya tak mampu menyembunyikan rasa grogi. Ada pula yang sesaat kehilangan konsentrasi, seperti sedang melamun ketika aba-aba berikutnya sudah terdengar.

Dan tentu saja, ada momen ketika instruksi diterima berbeda dari yang seharusnya.

Satu gerakan keliru, teman di samping berusaha menyesuaikan, sementara anggota lainnya mencoba tetap menjaga formasi. Sesekali suasana serius berubah menjadi senyum dan tawa kecil.

Justru di situlah keseruannya.

Lomba PBB hari itu bukan tentang mempertontonkan barisan yang selalu sempurna. Para santri sedang belajar bagaimana mendengar dengan baik, berkonsentrasi, bergerak bersama, serta tetap tenang ketika melakukan kesalahan.


Image

Image

Belajar Menjadi Satu Barisan

PBB memang terlihat sederhana: berdiri, mendengar aba-aba, lalu bergerak.

Namun ketika dilakukan bersama-sama, setiap orang tidak lagi dapat berjalan dengan kehendaknya sendiri. Satu anggota terlambat bergerak dapat memengaruhi kerapian seluruh barisan. Satu orang kehilangan fokus membuat anggota lain harus semakin sigap menjaga kekompakan.

Di situlah PBB menjadi latihan karakter.

Para santri belajar bahwa menjadi bagian dari sebuah kelompok berarti belajar disiplin, patuh pada instruksi, bertanggung jawab, fokus, dan saling menjaga satu sama lain.

Kesalahan pun menjadi bagian dari proses itu. Grogi boleh datang. Konsentrasi sesekali bisa buyar. Aba-aba mungkin saja keliru diterjemahkan. Tetapi setelah itu, mereka kembali merapikan barisan dan mencoba melakukan yang terbaik.

Baca Juga : Menjaga Ayat, Meraih Kemuliaan

Bukan Sekadar Mencari Juara

Di bawah rindangnya pepohonan Alas Soeko, perlombaan akhirnya meninggalkan cerita yang lebih panjang daripada sekadar siapa yang menang dan siapa yang kalah.

Ada pengalaman tentang bagaimana sebuah kelompok belajar menjadi satu. Ada keberanian untuk tampil. Ada kesalahan yang kelak menjadi bahan tertawaan bersama. Dan ada proses kecil yang perlahan menumbuhkan kedisiplinan serta tanggung jawab.

Itulah wajah Jambore Sako 2026 pada hari pertamanya: serius dalam latihan, hangat dalam kebersamaan, dan penuh cerita dalam setiap prosesnya.

Sebab barisan yang kuat bukanlah barisan yang tidak pernah salah, melainkan mereka yang ketika langkahnya keliru, mampu kembali menyamakan langkah dan bergerak bersama menuju tujuan.

Reff : TheDies