Surabaya, 4 November 2026 — Ada pelajaran yang tidak selalu ditemukan dalam lembaran buku. Ada nilai-nilai kehidupan yang tidak cukup dipahami hanya melalui hafalan. Terkadang, pelajaran paling berharga justru lahir dari kisah seseorang yang pernah berdiri di tengah perjuangan, menyaksikan perjalanan bangsa, dan merasakan betapa mahalnya sebuah kemerdekaan.

Suasana itulah yang terasa dalam kegiatan Veteran Mengajar yang diselenggarakan SMP Luqman Al Hakim Surabaya, Rabu (4/11/2026).

Di hadapan para santri, seorang veteran hadir bukan sekadar sebagai narasumber, melainkan sebagai saksi perjalanan sejarah. Sosok yang membawa cerita tentang keberanian, pengorbanan, keteguhan hati, dan kecintaan kepada tanah air.

Melalui kegiatan bertema "Pejuang Bercerita, Generasi Emas Berkarya", sekolah menghadirkan Letkol Inf (Purn.) Suwarto Priyoadmodjo, S.H., untuk berbagi pengalaman dan menanamkan nilai-nilai perjuangan kepada generasi muda.


Image

Image

Ketika Sejarah Hadir di Hadapan Santri

Pagi itu, ruang pertemuan sekolah menjadi tempat bertemunya dua generasi yang tumbuh dalam zaman berbeda.

Di satu sisi, seorang veteran dengan pengalaman hidup dan kisah pengabdiannya. Di sisi lain, para santri yang sedang menapaki perjalanan panjang menuju masa depan.

Dengan seragam kebanggaan yang dikenakannya, Suwarto menyampaikan kisah perjuangan dan pesan-pesan kebangsaan. Setiap cerita menjadi pengingat bahwa kehidupan damai yang dinikmati generasi sekarang tidak hadir begitu saja.

"Kemerdekaan itu bukan hadiah. Kemerdekaan itu usaha perjuangan dari para pejuang."

Pesan tersebut menjadi benang merah dalam kegiatan Veteran Mengajar. Sebuah pengingat bahwa kemerdekaan merupakan hasil dari keberanian, persatuan, pengorbanan, dan keteguhan para pendahulu bangsa.

Para santri diajak memahami bahwa sejarah bukan sekadar deretan tahun, nama tokoh, atau peristiwa yang harus diingat ketika ujian. Sejarah adalah perjalanan manusia yang menyimpan nilai, teladan, dan tanggung jawab untuk diteruskan.

Dari Kisah Perjuangan Menuju Dialog Antargenerasi

Kegiatan berlangsung melalui penyampaian materi, berbagi pengalaman, serta interaksi antara veteran dan para santri.

Salah satu momen yang menarik terlihat ketika seorang santri berdiri dan berinteraksi langsung dengan narasumber. Sebuah pertemuan sederhana yang menggambarkan bagaimana rasa ingin tahu generasi muda dapat membuka ruang dialog dengan generasi pendahulu.

Di tengah perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, kesempatan mendengarkan langsung kisah seorang veteran menjadi pengalaman pendidikan yang memiliki makna tersendiri.

Para santri tidak hanya diajak mengetahui bagaimana perjuangan bangsa berlangsung, tetapi juga memahami nilai-nilai yang menghidupinya: disiplin, keberanian, kejujuran, tanggung jawab, persatuan, dan semangat pantang menyerah.

Nilai-nilai tersebut tetap relevan, meskipun tantangan yang dihadapi generasi sekarang telah berubah.

Jika dahulu perjuangan menuntut keberanian menghadapi ancaman terhadap kemerdekaan, maka hari ini perjuangan generasi muda hadir dalam bentuk kesungguhan belajar, menjaga akhlak, menguasai ilmu pengetahuan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.


Image

Image



Menanamkan Nasionalisme, Menguatkan Karakter

Bagi SMP Luqman Al Hakim Surabaya, kegiatan Veteran Mengajar menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter.

Sejalan dengan semangat "Excellent with Integral Character", sekolah memandang bahwa kecerdasan intelektual perlu berjalan beriringan dengan kekuatan spiritual, kematangan akhlak, dan kepedulian sosial.

Melalui perjumpaan dengan tokoh yang memiliki pengalaman pengabdian kepada bangsa, para santri memperoleh ruang untuk belajar tentang arti nasionalisme secara lebih dekat dan manusiawi.

Mencintai tanah air bukan hanya tentang mengucapkan slogan atau mengikuti upacara bendera. Cinta tanah air juga tercermin dalam perilaku sehari-hari: menghormati guru dan orang tua, menjaga persaudaraan, bersungguh-sungguh menuntut ilmu, serta menggunakan kemampuan untuk kebaikan.

Di sinilah pendidikan menemukan maknanya yang lebih luas.

Sekolah bukan hanya tempat menyiapkan anak-anak agar mampu menjawab pertanyaan ujian, melainkan juga tempat menumbuhkan kesadaran tentang siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan tanggung jawab apa yang kelak harus mereka emban.

Baca Juga : Jambore Sako 2026

Pejuang Bercerita, Generasi Emas Berkarya

Kegiatan Veteran Mengajar menjadi jembatan yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Dari seorang veteran, para santri belajar tentang harga sebuah kemerdekaan. Dari kisah perjuangan, mereka menemukan pentingnya keteguhan dan pengorbanan. Dari pertemuan antargenerasi, tumbuh kesadaran bahwa setiap zaman memiliki medan perjuangannya sendiri.

Menjelang berakhirnya kegiatan, kebersamaan antara para veteran, pendidik, dan santri diabadikan dalam sebuah foto bersama.

Wajah-wajah muda yang penuh semangat berdampingan dengan para pendahulu yang telah mengabdikan sebagian perjalanan hidupnya bagi bangsa.

Sebuah potret sederhana, tetapi menyimpan pesan yang mendalam.

Bahwa estafet perjuangan tidak pernah benar-benar berhenti. Ia hanya berpindah tangan, dari generasi yang mempertahankan kemerdekaan kepada generasi yang bertugas mengisinya dengan karya dan pengabdian.

Sebab, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mengenang jasa para pahlawannya, tetapi bangsa yang mampu mengubah nilai-nilai perjuangan mereka menjadi karakter, prestasi, dan karya nyata bagi masa depan Indonesia.

Ref : TheDies (Tim Humas SMP Luqman Al Hakim Surabaya)