SURABAYA — Barisan seragam kepanduan memenuhi ruangan pagi itu. Hasduk merah putih terikat rapi, perlengkapan telah disiapkan, sementara wajah-wajah para santri menyimpan perpaduan antara semangat dan rasa penasaran. Sebentar lagi, mereka akan meninggalkan rutinitas sekolah dan memasuki ruang belajar yang jauh lebih luas: alam terbuka.

Rabu, 30 September 2026, peserta Jambore Sako Hidayatullah SMP Luqman Al Hakim Surabaya resmi dilepas untuk mengikuti rangkaian kegiatan Jambore Sako di Alas Soeko, Trawas, yang berlangsung hingga 2 Oktober 2026.

Baca Juga : Dari Titik Solder Menuju Robot Soccer

Pelepasan dipimpin langsung oleh Ust. Marni Mulyana, M.Th.I., didampingi Kepala SMP Luqman Al Hakim Surabaya, Ust. Muhajir, M.Pd. Di hadapan para peserta, pesan yang disampaikan bukan sekadar tentang perjalanan menuju lokasi perkemahan. Ada makna yang lebih dalam tentang bagaimana alam dapat menjadi ruang belajar bagi seorang santri.

“Kegiatan ini merupakan langkah kita untuk memahami ayat-ayat kauniyah, bahwa ciptaan Allah itu Maha Indah dan Maha Agung,” tutur Ust. Marni Mulyana.

ImagePesan itu membawa para peserta melihat jambore dari sudut yang berbeda. Hutan, pepohonan, udara pegunungan, langit, serta bentang alam yang akan mereka jumpai bukan semata latar sebuah kegiatan. Semuanya menjadi bagian dari pembelajaran untuk mengenal kebesaran Allah melalui tanda-tanda ciptaan-Nya.

Selama tiga hari, para santri akan menjalani kehidupan yang berbeda dari keseharian mereka. Mendirikan dan menata tenda, mengikuti kegiatan kepanduan, jelajah alam, ketangkasan, ibadah berjamaah, hingga mengatur berbagai kebutuhan pribadi menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Di sinilah jambore menemukan maknanya. Kemandirian tidak hanya dibicarakan, tetapi dilatih melalui pengalaman nyata.

Ust. Marni juga mengingatkan bahwa perjalanan tersebut merupakan salah satu langkah awal bagi para santri untuk belajar bertanggung jawab.

“Ini merupakan langkah awal hidup mandiri, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap semua yang kita bawa.”

Kalimat sederhana itu menjadi bekal penting. Setiap perlengkapan yang dibawa harus dijaga. Setiap tugas harus diselesaikan. Setiap keputusan mengajarkan konsekuensi. Dan setiap kebersamaan menuntut kepedulian kepada teman seperjalanan.


Image

Image

Jambore akhirnya bukan hanya tentang siapa yang paling kuat menghadapi medan, tetapi juga siapa yang mampu mengendalikan diri, bekerja sama, menjaga amanah, serta tetap menjalankan kewajiban di tengah keterbatasan.

Pelepasan pagi itu pun menjadi awal dari perjalanan yang lebih besar daripada sekadar perjalanan Surabaya menuju Trawas.

Para santri berangkat membawa ransel dan perlengkapan masing-masing. Namun sekolah berharap, ketika kembali nanti, mereka membawa sesuatu yang tidak selalu terlihat di dalam tas: keberanian, kemandirian, kedisiplinan, rasa syukur, dan tanggung jawab.

Sebab pendidikan tidak selamanya berlangsung di antara meja, papan tulis, dan dinding kelas. Ada saatnya seorang anak perlu berjalan lebih jauh, menyentuh tanah, menatap luasnya langit, hidup bersama teman-temannya, dan belajar langsung dari alam.

Reff : Mitra Armiko